Cara Mengajarkan Drumband Anak Anak Pada Siswa Usia Dini
Drum band
merupakan salah satu kegiatan yang sangat menyenangkan. Banyak orang yang
sangat menyukai kegiatan yang satu ini. Menggabungkan instrumen yang satu
dengan yang lainnya hingga tercipta keharmonisan dan juga keselarasan dalam
memainkan musik. Drum Band juga merupakan salah satu kegiatan belajar yang
mampu melatih cara kerja kelompok. Namun untuk bisa memainkan drum band anda
harus memiliki skill-skill tertentu. Dan bagi yang belum terlalu menguasai pun
harus belajar sehingga dapat menyelaraskan lagu yang dimainkan. Bagi orang
dewasa pun memainkan drum band terkadang tidak semudah yang kita bayangkan.
Apalagi bagi siswa usia dini. Oleh karena itulah dalam kesempatan kali ini kita
akan membahas tentang cara mengajarkan Drumband Anak Anak pada
anak usia dini.
![]() |
| drumband anak anak |
Sekarang ini banyak sekali pendidikan usia dini yang
telah memberikan kegiatan drumband pada murid-muridnya. Meski banyak pihak yang
mengatakan bahwa kegiatan drumband untuk TK tersebut terlalu membebani
anak-anak namun nyatanya 99% siswa sangat menikmati kegiatan drum band yang
diajarkan kepada mereka. Pihak yang mengatakan bahwa drum band terlalu
membebani murid TK adalah karena peralatan drum band yang harus mereka bawa
terlalu berat sehingga akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan fisik
mereka. Namun sebenarnya hal tersebut telah dipertimbangkan oleh para pengrajin
alat-alat drum band.
Sebelum menciptakan peralatan drum band, para
pengrajin alat musik dan instrumen drum band telah mempertimbangkan terlebih
dahulu mengenai ukuran instrumen dan juga beratnya. Untuk kegiatan drumband TK
tersebut, para pengrajin telah menciptakan instrumen yang nyaman dan tentunya
dibuat dengan ukuran yang telah disesuaikan dengan badan murid-murid TK.
Perlengkapan yang melengkapi instrumen pun telah dirancang dan dibuat sedemikian
rupa agar nyaman dipakai oleh anak TK. Karena alasan tersebutlah maka
sebenarnya drum band untuk TK tersebut sebenarnya aman untuk diterapkan asalkan
sesuai dengan prosedur anak-anak TK.
Berikan Pemahaman
Kedisiplinan
Setelah membahas tentang aman tidaknya kegiatan
drumband untuk anak TK tersebut kini berikutnya kita akan membahas bagaimana
cara mengajarkannya. Sifat anak-anak yang masih usil dan susah untuk diatur
mungkin menjadi salah satu alasan mengapa mengajarkan drumband kepada anak TK
bisa dibilang susah-susah gampang. Yang pasti anda harus dekat dengan anak-anak
dan memahami apa yang mereka inginkan. Terkadang mereka menabuh instrumen
dengan sesuka hati, hal tersebut adalah karena mereka sebenarnya tidak sabar
ingin memainkan instrumen tersebut. Oleh karena itu berikan pemahaman untuk
tidak menabuh saat bukan waktunya untuk bermain. Dengan begitu secara tidak
langsung anak-anak juga telah belajar tentang asas kedisiplinan.
Ajarkan Lagu yang
Mereka Sukai
Lalu cara untuk mengajarkan kegiatan drumband TK yang
selanjutnya adalah dengan mengajarkan lagu yang mereka suka. Terlebih lagi jika
anda mengajarkan kepada mereka lagu-lagu yang telah familiar di telinga mereka.
Tentu akan lebih mudah lagi dalam menerapkan jenis tabuhannya. Jadi jika anda ingin
memainkan lagu yang anak-anak belum begitu familiar maka sebelumnya anda harus
mengajarkan lagunya dengan cara sering-sering menyanyikannya. Dengan begitu
anak akan hafal diluar kepala sehingga pelajaran instrumen pun bisa segera anda
mulai.
Tempatkan Siswa Pada
Bakat Dan Minat yang Tepat
Berikutnya anda
tentu akan memilih anak per anak untuk ditempatkan pada instrumen yang tepat.
Cara menempatkan yang benar adalah dengan melakukan seleksi satu persatu.
Karena bakat dan minat anak berbeda-beda maka anda harus jeli dalam melihatnya.
Ada anak yang berbakat dalam salah satu instrumen namun ia tidak berminat atau
bahkan sebaliknya ada anak yang menginginkan untuk memainkan salah satu
instrumen namun ia tidak bisa memainkannya. Jadi anda harus benar-benar jeli
dalam proses penempatan ini. Demikian artikel tentang cara mengajarkan drumband TK ini semoga bermanfaat bagi anda semua.
Unsur, Tujuan, dan Manfaat Drum Band
UNSUR-UNSUR GERAKAN OLAHRAGA DALAM DRUMBAND
Drumband suatu kegiatan yang mengadung gerakan-gerakan di
tempat dan berjalan, yang mengandung unsur-unsur :
1. Gerakan
Pelepasan/Perenggangan, yang ditampilkan dalam memukul, gerakan-gerakan lengan
dan kepala dari penata rama (Mayor/Mayorette), dalam memberikan aba-aba para
pemain drumband.
2. Gerakan
Penguatan, semua pemain drumband harus memiliki kekuatan otot guna membawa
peralatan drumband.
3. Gerakan
Ketangkasan/Kekuatan, ini dapat dilihat dalam Pom-Pom Girl, Baton Twilers,
Colourguard dan ketangkasan drum mayor dalam gerakan membawa, melempar
menangkap stik, mengambil, memainkan alat tersebut, membuat koreografi sesuatu
instruksi
4. Gerakan
Keindahan, merupakan gabungan gerakan secara keseluruhan dari pada pemain
drumband, keterampilan, kelincahan pemain drum dan penata rama, mengandung
gerakan yang indah/estetis.
5. Koordinasi,
permainan drumband merupakan perpaduan dari koordinasi para pemain, baik
penampilan maupun gerakan seluruh bagian-bagian tubuh mereka.
1. Music Skill
(Keterampilan Musik).
Para anggota diberikan pemahaman dan keterampilan bermain
musik baik secara teori maupun praktek, melalui proses latihan yang sistematis
dan kontinu.
2. Self
Confidence (Kepercayaan Diri)
Para anggota akan dibangkitkan rasa percaya dirinya, bahwa
mereka berani dan mampu tampil di depan banyak orang. Kepercayaan Diri ini
kelak akan sangat bermanfaat bagi kehidupannya di masa depan dalam menghadapi
berbagai tantangan dan hambatan dalam hidupnya.
3. Teamwork
(Kerjasama Team)
Kegiatan marching band bukanlah kegiatan perorangan,
melainkan kegiatan kelompok yang besar. Mereka semua harus bekerjasama antara
yang satu dengan yang lainnya. Bila tidak bekerjasama, Bisa dipastikan tidak
akan sukses. Kemampuan bekerja sama ini akan sangat bermanfaat dalam hal
membangun hubungan antar-manusia (interpersonal) dan menjalin kerjasama yang
harmonis diantara mereka, sehingga setiap permasalahan (baik yang ringan
ataupun yang berat) dapat diselesaikan bersama-sama.
4. Health &
Fitness (Kesehatan & Kebugaran)
Kegiatan marching band memerlukan kondisi fisik yang prima.
Aktivitas fisik selalu terjadi pada saat : berbaris, memainkan alat musik,
menari, membentuk formasi display dll. Oleh karenanya, para anggota perlu
menjalankan pola hidup dan pola makan yang sehat, sehingga kesehatan dan
kebugaran mereka dapat terjaga dengan baik.
5. Achievement
(Prestasi)
Kegiatan marching band mengajarkan bagaimana caranya
mencapai tujuan/prestasi yang diinginkan, melalui proses latihan dan kerja
keras semua anggota. Suatu tujuan tidak akan tercapai tanpa bekerja keras.
Hampir semua orang sukses memperoleh kesuksesan mereka melalui kerja keras.
6. Leadership
(Kepemimpinan)
Kegiatan marching band mengajarkan bagaimana caranya
memimpin dan dipimpin. Setiap orang memiliki potensi untuk menjadi pemimpin.
Seorang pemimpin tidak dilahirkan begitu saja, tetapi melalui berbagai proses
belajar dan latihan untuk menjadi seorang pemimpin. Jiwa kepemimpinan ini akan
sangat bermanfaat bagi para anggota di masa yang akan datang dalam
pekerjaannya, sehingga dapat menjadi seorang pemimpin yang tangguh, dicintai
oleh mereka yang menjadi bawahannya, dapat bertindak adil dan obyektif.
7. Loyalty
(Loyalitas)
Kegiatan marching band dapat membangkitkan
loyalitas(kesetiaan) anggota tidak hanya kepada unit dan orang tuanya, tetapi
juga kepada pekerjaan dan perusahaannya.
8. Community
Identity (Identitas Komunitas)
Kegiatan marching band sudah menjadi salah satu identitas komunitas.
Generasi muda membutuhkan identitas dari komunitasnya. Mereka bisa lebih
dikenal luas melalui berbagai perilaku, atribut dan ciri khas-ciri khas yang
dimiliki oleh komunitas tersebut.
9. Self-Esteem
(Harga Diri)
Kegiatan marching band dapat meningkatkan kebanggaan dan
harga diri anggota melalui berbagai penampilan, prestasi dan penghargaan yang
diterima olehnya. Kebanggaan dan harga diri ini dapat diarahkan untuk
meningkatkan rasa percaya diri anggota, sehingga berani dalam menghadapi berbagai
tantangan dan hambatan dalam hidupnya.
10. Fun (Kegembiraan)
Kegiatan marching band adalah kegiatan yang menyenangkan
hati, yang dapat diperoleh dari lagu dan tari yang dimainkan, penampilan yang
sukses, canda tawa antar anggota dan berbagai kegembiraan lainnya.
Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh jika belajar musik
dari TK-SD dalam kegiatan drumband, yaitu, selain dapat meningkatkan
intelejensi dan konsentrasi, juga bermanfaat untuk perkembangan fisik,
perkembangan aspek motorik kasar dan motorik halus, perkembangan aspek sosial,
perkembangan aspek emosi atau kepribadian, perkembangan aspek kognisi,
mengembangkan ketrampilan olahraga dan menari, mengasah ketajaman pengindraan,
dan sebagai media terapi. Lagu-lagu yang dibawakan dalam kompetisi, selain lagu
daerah, lagu anak-anak, juga lagu Nasional yang sudah dilatih oleh guru musik
dibantu oleh guru TK-SD sendiri. Jika sudah mendekati lomba, kompetisi atau
pertunjukan drumband, para guru tidak kenal lelah mempersiapkan segala
sesuatunya mulai dari peralatan musik, kostum, make up, transportasi dan
akomodasi lainnya.
Alat-alat musik yang digunakan dalam kompetisi tersebut,
kebanyakan dari alat musik pukul atau perkusi seperti tam-tam, simbal,
tamborin, genderang, dan basdrum. Alat musik perkusi ini akan mendasari alat
musik lainnya seperti glockenspiel, marimba, vibraphone dan alat musik melodis
lainnya. Oleh sebab itu, alat musik perkusi berperan dalam membentuk sikap,
perilaku maupun karakter anak. Lebih lengkap dan sempurna lagi, jika musik
drumband ini ditambah dengan gerakan-gerakan yang berwirama, sehingga dapat
menumpuhkan sikap percaya diri anak. Dengan demikian musik yang ditambah dengan
gerakan atau tarian, dapat memberikan hubungan sosial yang sehat, memberikan
kemampuan berkomunikasi secara efektif, berbagi kemampuan bermain diantara
anak-anak dan akan menghasilkan sebuah kelompok yang memiliki pengalaman tanpa
persaingan.
Tanpa disadari, melalui kegiatan drumband dapat terjadi
pembentukan karakter anak. Seperti dikemukakan oleh al-Farabi, bahwa musik
dapat menciptakan perasaan tenang dan nyaman. Musik, juga mampu mempengaruhi
moral, mengendalikan emosi, mengembangkan spiritualitas, dan menyembuhkan
penyakit seperti gangguan psikosomatik. Karena itu bagi al-Farabi, musik bisa
menjadi alat terapi. Sebab, musik adalah sesuatu yang muncul dari tabiat manusia
dalam menangkap suara indah yang ada di sekelilingnya. Al-Farabi tidak hanya
mampu memahami pemikiran Plato dan Arsitoteles tentang musik. Akan tetapi dia
juga mampu menuangkan pemikiran filsafatnya ke dalam kitab Fushush al-Hikam dan
kitab al-Ihsha` al-'Ulum.
Al-Farabi bernama lengkap Abu Nasr Muhammad ibn al-Farakh
al-Farabi. Dia lahir pada tahun 870 di Farab, Turki bagian tengah. Selain dikenal sebagai seorang filsuf,
al-Farabi juga dikenal sebagai pakar musik dan penemu not musik. Temuan ini
ditulis dalam kitab al-Musiq al-Kabir (Buku Besar tentang Musik). Buku yang
membahas ilmu dasar musik ini menjadi rujukan penting bagi perkembangan musik
dunia.
Terkait Al-Farabi dan peran musik drumband, PPPPTK Seni dan
Budaya dalam program pengembangan seni musik sebagai media pendidikan, melalui
kegiatan lomba atau kompetisi yang diselenggarakan oleh beberapa EO yang
berkembang di dalam maupun di luar DIY, sangat mengapresiasi bahwa kegiatan
tersebut sangat positif dan perlu ditindaklanjuti.
TUJUAN DAN MANFAAT MARCHING BAND DALAM SEKOLAH
Marching band, bila ditilik dari citra sejarah serta
filosofisasi yang mengelilinginya, bisa dikategorikan sebagai primadonanya
ekstrakurikuler sekolah. Bagaimana tidak, beberapa literasi mutakhir yang telah
mengeksplorasi dunia marching band dari multi perspektif, secara naratif
mayoritas berbicara positif tentang puspa-ragam seluk-beluk serta pengaruh
sugestif yang ditimbulkannya bagi pemberbudayaan karakter maupun sikap mental
siswa. Menjadikan siswa lebih berbudaya dan cerdas.
Pembelajaran intra kurikuler banyak disinyalir pakar
pedagogis melatih otak sebelah kiri sedang ekstra kurikuler mengasah belahan
otak kanan, jadilah ia neraca keseimbangan. Keseimbangan secara psikologis
berefek menentramkan jiwa.
Goldman (dalam Erman, 2004) kian melengkapi testimonial di
atas, selanjutnya ia mengatakan bahwa, kecerdasan individu terbagi ke dalam
kecerdasan intelektual (IQ) pada otak kiri dan kecerdasan emosional (EQ) pada
otak kanan yang saling mempengarahui, di mana IQ berkontribusi untuk sukses
hanya sekitar 20% sedangkan EQ bisa mencapai 40%. Dengan demikian kompetensi
siswa menjadi terlatih dan mendapatkan posisi serta porsi yang semestinya
diperoleh yakni, mengekspresikan kompetensinya pada pelajaran ekstra kurikuler,
utamanya marching band. Artinya pula, antara pelaku lapangan (baca: pelatih
drum/marching band) dengan pernyataan Goldman ini memiliki tingkat kohesifitas
yang tinggi dan terbukti korelatif, dan agaknya pula telah cukup memberikan
kerangka pijak yang kuat bagi pemahaman dan pencerahan kita semua, mengapa
perhatian yang lebih serius lagi sekaligus pembinaan ekstra kurikuler marching
band yang dilakukan secara lebih profesional lagi dalam hal koordinasi dan
manajerialnya di setiap institusi pendidikan atau sekolah-sekolah semakin
ditingkatkan kualitasnya. Sehingga keberadaan maupun peran marching band tak
lagi dianggap matra ajar ‘sampingan’. Lebih dari itu, secara pedagogis
pemikiran Goldman di atas kian meyakinkan para stake holder terkait bahwa,
waktu yang tepat untuk mengangkat ekstra kurikuler marching band ke posisi dan
porsi terhormat di sekolah-sekolah, memang telah tiba!
Tinggal political will dari para pengambil kebijakan terkait
yang mesti tanggap, apalagi kini drum band telah resmi masuk dalam salah satu
cabang olah raga yang dipertandingkan dalam PON (Pekan Olah Raga Nasional)
XVIII tahun 2012 di Riau dengan tanpa eksibisi! Artinya, penghargaan dan
penghormatan terhadap eksistensi dan kontribusi drum band dalam kancah olah
raga tingkat nasional benar-benar diperhitungkan. Tentu hal ini mengisyaratkan
kepada pihak-pihak terkait yang berkompeten dalam masalah ini, dituntut untuk
lebih serius dan lebih profesional lagi menata segala macam tingkat urusan yang
berkaitan secara langsung maupun tidak dengan kemajuan serta peningkatan
kegiatan serupa, utamanya di sekolah-sekolah yang memiliki ekstra kurikuler
marching band. Karena institusi seperti sekolah inilah tempat persemaian
terbaik, cikal-bakal terpilih bagi lahirnya marcher-marcher tangguh yang
berbudi-pekerti, berprestasi dan berpendidikan tinggi.
Maka sudah semestinya, para pemerhati pendidikan, pengambil
kebijakan serta pihak yang berkompeten dalam masalah ini, kian menyadari bahwa,
kecerdasan rasional yang telah dicapai seseorang tak akan pernah ada artinya tanpa
dibarengi dengan kecerdasan intuitifnya. Salah satu media melatih kecerdasan
intuitif yang telah teruji adalah fungsionalisasi dan optimalisasi kegiatan
ekstra kurikuler marching band secara pedagogis. Kian terbaca jelas bahwa,
moment berharga dan strategis ini hanya dimiliki oleh institusi sekolah.
Metodologi pendidikan di sekolah menurut De Porter (1992)
sangat tepat dalam menjembatani kepentingan pedagogis semacam ini, karena
belajar merujuk pada aktivitas siswa, sedang aktivitas individu dapat dipengaruhi
oleh kondisi emosional. Maka telah sepantasnya jika diciptakan suasana
pembelajaran yang kondusif dalam keadaan nyaman dan menyenangkan, yang hal ini
merupakan tugas seorang guru sebagai pendidik.
Menurut De Porter selanjutnya, dengan suasana yang kondusif
inilah maka lahirlah motivasi dan kreativitas. Kondisi seperti ini merupakan
suatu cikal-bakal aktivitas dalam belajar. Kenyataan mana telah sesuai dengan
prinsip pakem, yakni pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan. Di dalam
kegiatan ekstra kurikuler marching band, ketiga modal prinsipil tersebut telah
menemukan jawabannya yakni, mengandung unsur pendidikan seni musik, olah raga
yang kreatif karena mengkombinasikan sisi kebugaran jasmani dan musikalitas
serta, hiburan yang menyenangkan, karena berpadu-padannya artistikal gaya dan
model pakaian personelnya yang bagai fashion show dengan ditingkahi blocking
baris-berbaris nan dramatis, rapi dan menawan serta, dinamisasi aransemen
musiknya yang terdengar merdu-harmonis di telinga.
